Sabtu, 24 Oktober 2020

Interaksi Robot

Ya. Ingatan waktu kecil, anak ayam, banting, buang bawah jembatan sungai.
Taman kanak kanak, paling besar di atara mereka.
Sekolah dasar, interaksi yang benar dan lancar. Kelas 6 tertolak untuk pertama kali. Masih benar dan lancar.
Sekolah menengah pertama, kelas 1 tanpa jawaban diatara manusia, kelas 2 perlahan mulai menakutkan. Kelas 3 dan jadilah seorang robot. Tidak lagi mengejar hormon yang berbeda.
Sekolah menengah tingkat lanjut, apa itu interaksi sosial, bangsat untuk pengajar itu. Berjalanpun itu memang robot, dengan muka kotor penuh maksiat. Apaitu. Bercermin pun aku takut. Seperti apa sebenarnya aku terlihat. Apa diam itu hina? banyak bicara itu mulia?. Jangan bercanda. Aku hanya menahan diri. Dan terus seperti itu.
Interaksi? Hah? Komunikasi? Perlukah menceritakan angin yang hijau dan bumi yang hitam kepadamu?
Ya aku hanya menutup diri, tidak kupercayakan semudah itu padamu.
Bandingkan saja sesukamu.
Ya aku masih sadar, dan juga gila, dan itulah yang terjadi.

Bagian Lain

Ridho Tri Wibowo seorang manusia, 24 tahun, berasal dari keluarga sederhana. 
Apalah itu introvert. Apalah itu pendiam. Apalah itu pemalu. Apalah itu robot. Apalah itu apapun itu.
Teman? Itu hanya kebutuhan. Keluarga? Ya memang saya berasal dari situ.
Ini tentang pekerjaan.
Merantau di kota lain.
6 bulan bekerja di perusahaan swasta, hanya satu pengalaman, pasang baut sampai tidak bergerak. Habis kontrak. Dan belum memikirkan masa depan dan juga menabung.
1 tahun bekerja lagi di perusahaan swasta, pengalaman kecelakaan kerja. Habis kontrak. Belum banyak perubahan. Masih tetap pakai uang, uang habis.
1 bulan dapat kerja namun bukan tujuan, pengalaman tidak ada sinyal, terkena penyakit. Kembali kampung halaman.
Kurang lebih 1 tahun bekerja dijual beli pulsa, pengalaman interaksi sosial penjual pembeli.
Merantau kembali.
2 tahun bekerja di perusahaan swasta yang paling berkesan, pengalaman tentu ini yang paling banyak, tekanan atasan, senior junior, komunikasi, semua tentang pamer muka.
Tidak akan terlupakan.
Habis kontrak. Dapat uang banyak, dengan percaya dirinya ingin membangun usaha. Naas bangkrut pay to win untuk game, dan juga trading binary tidak menghasilkan apapun.
Hasil zero. Semua lancar di imajinasi dan ekspetasi.
Ya.

Awal Cerita Dimulai

R seorang manusia.
Tentang cerita hal kotor.
Dimulai setelah lulus sekolah dasar mungkin.
Berinteraksi dengan F dan S seorang manusia. Dan si R diajar onani/masturbasi/coli. Di taman menggesekannya tempat berjalan. Melakukan dengan tangan, ya itu nikmat saat itu. Lalu dirumah mereka, lalu dirumah sendiri, di sekolah, di samping sekolah. Sampai sekolah menengah pertama.
Di sekolah menengah lebih tinggi masih melakukan itu. Dan mereka berdua sudah berhenti. Ya. 
Ada guru mengetahuinya, entah bagaimana ia mengetahuinya, semua kelas tahu, dan masih berlanjut walau sebulan berhenti, sampai kelas dua pergi keluar daerah tugas sekolah 4 bulan, mungkin bekali tapi ya masih melakukan, pulang. Di kelas tiga, ya naik level eksibisionis, tetangga perempuan ya kalian anggap itu korban pertama, terus berlanjut banyak kesempatan dia maaih diam, bahkan memakai celana dalamnya, bhnya. Sudah kulakukan, apalagi kalau bukan gila, ya aku masih sadar.
Lulus. Merantau pertama ke kota lain, di kontrakan, ya masih melakukan, punya tetangga perempuan, ngintip, gagang pintu tetangga jadi korban. 6 bulan.
Merantau kedua, 3 bulan tak ada kerja, ya masih melakukan, dapat kerja di kontrakan, ada lagi dan masih melakukan, 1 tahun.
Pulang 1 tahun kurang, kerja jual pulsa, teman kerja perempuan, ganti shift jadi sasaran, melakukan itu di sampingnya, terus menerus.
Merantau ketiga, masih melakukannya, seperti bisa tetangga kontrakan perempuan, diambil celana dalam, dan ya itu gila, punya banyak uang, beli alat bantu, ya nikmat, dan aku masih sadar. 2 tahun. 
Pulang, terus berlanjut dirumah, dan tetangga perempuan masih, namun berkurang.
Sampai suatu hari, sendirian dirumah.
Sore hari, setelah mandi, bersiap mau mengintai dari jendela, dan.
Tetangga perempuan membela diri, mengancam melaporkan pihak berwajib. Terdiam, namun bersembunyi, tidak tahu ada bukti atau tidak, tidak tahu akan melaporkanya atau tidak, sampai detik ini aku bilang tidak ada perubahan, terus berlanjut, jika melihat tetangga perempuan langsung berpikir kotor.
Ya itu memang gila, dan terus terjadi.

Mungkin Aku Sudah Gila

Yah aku tidak bisa tidur malam ini, mungkin karena siang tadi tidurku terlalu banyak.
Umurku 24 tahun mungkin.
Aku pendiam, atau mungkin boleh dibipang intrivert, yang memandang rendah apalah itu bersosial, apalah itu basa basi, apalah itu apapun itu tentang hubungan antar manusia.
Sudah setahun lebih mungkin aku tidak bekerja. Tidak ada pemasukan, tidak ada aktifitas menghasilkan uang, ya benar aku merasa menjadi beban orang tua. Bapak Ibu masih ada, ya sangat memanjakan diriku. Jarang sekali berkomunikasi atau biasa yang disebut curhat, bahkan dengan keluarga. Mungkin terdengar gila, tapi pernah berpikir aku akan menjadi orang yang kejam. Karena apa ya masturbasi, bahkan sudah sampai level eksibisionis. Banyak dan tidak bisa ku hitung berapa kali. Namun tak bisakah aku hentikan itu semua, yang mungkin aku sudah gila. Di depan orang tua, di depan saudara, ya aku terlihat baik di mata mereka, mungkin. Dan ya aku yang terjijik, terhina, ter apalah semua kata kotor dalam diriku. Semua tentang hal kotor mungkin sudah banyak dalam pikiranku bahkan hati yang di buat dengan sebegitu bersih, sudah lebih kotor dari kubangan air sampah, ya itulah aku. Berawal dari kelas 6 Sekolah Dasar, pertama kali ku melakukan itu, dan terus berlanjut sampai sekarang dan begitulah, bagaimana mungkin? Ya itung terjadi. Nah gila? Ya mungkin. Sampai sekarang yang ku lakukan hanya menutup diri, tapi bukan menutup sarang burung di bawah pusarku. Ya itu sangat gila. Imajinasiku liar, ekspetasi ku tinggi, ya dan itu tak pernah terjadi nyata. Dan aku masih terlihat baik. Ya itu lah yang terjadi. Bagaimana caranya keluar, tak pernah pun aku melakukan itu, yang ada hanya imajinasi, gila ya. Ya mungkin aku masih bisa berpikir positif, dalam sisi yang itu. Tapi ya terlalu dalam aku masuk ke jurang. Banyak sekali pikiran yang menumpuk, bukan berpikir tapi imajinasi mungkin. Yang memang busuk sekali pikiran ku yang hanya memandang dengan hal hal senonoh. Ya aku masih sadar dan sudah gila ya begitulah. Kapan ini berakhir, tolong itu palsu, aku tak tahu jalan hidupku, mana yang aku pilih, mana yang benar, kenapa bisa terjadi dna terus berlanjut, ya mungkin sudah hilang. Aku masih sadar masih bisa berpikir, tapi bagaimana akan kehidupanku tak ada harapan kah, untuk apa sebenarnya, ini gila, ya tapi memang terjadi. Apa yang membuat ini terjadi, apakah yang benar kulakukan begini, tak adakah yang bisa kulakukan, yang ini gila, dan memang begitu, ya ini semua palsu bahkan tulisan ini, yang aku masih sadar dan mungkin akan melakukan terus menerus sampai ajal, gila. Aku ini kenapa, kenapa aku diam bahkan, tak punya hati, itu semua untuk apa. Ya semua tentang uang, tapi apa itu uang, untuk apa semua uang, ya aku sudah sadar
Tetapi aku memang gila, dan itu terjadi. Dan terus terjadi.